Bicara soal sejarah Kota Surabaya, tentu tidak terlepas dari kisah panjang tentang perdagangan, perjuangan, dan semangat kepahlawanan yang membentu identitas salah satu kota terbesar di Indonesia ini. Dari pelabuhan penting pada masa kerajaan hingga pusat perjuangan kemerdekaan Indonesia, Surabaya terus memainkan peran strategis dalam sejarah bangsa.
Tak heran jika Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan sekaligus kota kelahiran Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Hingga saat ini, jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui berbagai bangunan bersejarah, kawasan kota lama, dan monumen perjuangan yang tersebar di seluruh kota.
BACA JUGA: Liburan ke Surabaya? Nongkrong di Kedai Kopi Ini, Yuk!
Kota Surabaya dulunya didirikan oleh raja terakhir dari Kerajaan Singasari, yakni Raja Kertanegara tahun 1275 Masehi. Awal mula pembangunannya disinyalir karena berhasil menumpas pemberontakan Kanuruhan. Pada masa itu, raja memberikan titah untuk mendirikan pemukiman di Kali Brantas.
Namun, menurut versi lain, Surabaya dibentuk setelah Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Majapahit, menang melawan pasukan Mongol pada tahun 1293. Kedatangan pasukan Mongol yang dipimpin oleh Kubilai Khan tersebut adalah untuk menyerang Raja Kertanegara. Akan tetapi, Kubilai Khan tidak tahu kalau Raja Singasari sudah meninggal sebelum kedatangannya ke Jawa.
Begitu berartinya kemenangan Raden Wijaya sampai tanggal menangnya dijadikan sebagai tanggal berdirinya Surabaya, yakni 31 Mei. Meski begitu, nama Surabaya masih belum terlalu dikenal.
Penamaan Surabaya baru ditemukan tahun 1358 di masa pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit. Surabaya yang kala itu masih bertuliskan "Surabhaya" terukir di Prasasti Canggu atau Prasasti Trowulan.
Selain kisah di atas, Kota Surabaya pun tidak terlepas dari cerita rakyat tentang pertarungan antara buaya dan ikan hiu. Dikisahkan buaya yang bernama Baya dan ikan Hiu bernama Sura sering melakukan perkelahian di lautan. Keduanya berkelahi karena memperebutkan mangsa. Singkatnya, keduanya saling sepakat Sura mencari mangsa di lautan dan Baya di daratan.
Namun, Sura malah sembunyi-sembunyi mencari mangsa di sungai dan membuat Baya menjadi marah. Perkelahian pun terjadi kembali di antara keduanya dan Sura menggigit Baya di pangkal ekor sebelah kanan karena itulah ekor Baya bengkok ke kiri.
Ekor Sura juga tergigit dan nyaris putus. Dari sinilah akhirnya masyarakat percaya kalau asal usul nama Surabaya adalah dari perkelahian antara Sura dan Baya.
Dalam perkembangannya Kota Surabaya memiliki empat fase, dimulai dari:
Fase kota pra-modern dipimpin oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dan menjadikan Surabaya sebagai mininya Eropa. Dipengaruhi oleh kebudayaan barat, Surabaya pun dipetakan dengan benteng-benteng seperti Benteng Prins Hendrik.
Pada fase ini, mulai dibentuk struktur kota modern dan muncul sub-urbanisasi tahun 1830-1942. Pengaruh revolusi membuat sarana, prasarana, dan teknologi melaju pesat. Tahun 1906, banyak bermunculan industri pertanian setelah banyaknya penanam modal di Surabaya.
Pengaruh kolonial mulai menghilang sejak kedatangan Jepang tahun 1942. Kota Surabaya yang mulanya memproduksi gula beralih ke industri galangan kapal, baja, dan tekstil. Selain itu, mulai dibangun pabrik baru dan membuat arus migrasi berlanjut menempati infrastruktur publik.
Ukuran skala kota pun menjadi semakin membesar karena adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman berskala besar tahun 1970 sampai dengan sekarang. Kawasan Tunjungan dan Jembatan Merah pun dijadikan kawasan mewah dan modern.
Julukan Kota Pahlawan tidak muncul tanpa alasan. Sebutan ini berasal dari peristiwa heroik Pertempuran 10 November 1945.
Setelah Indonesia merdeka, rakyat Surabaya menghadapi pasukan Sekutu yang datang bersama NICA. Pertempuran besar pun terjadi dan melibatkan ribuan pejuang serta masyarakat sipil yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Walaupun banyak korban berjatuhan, semangat juang arek-arek Suroboyo menjadi simbol keberanian bangsa Indonesia. Beberapa dampak penting dari peristiwa ini, antara lain:
Bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah Kota Surabaya, terdapat sejumlah destinasi bersejarah yang menarik untuk dikunjungi, antara lain:
BACA JUGA: Cicipi Kuliner Lezat Khas Jawa Timur, Yuk!
Sejarah Kota Surabaya adalah kisah tentang keberanian, perdagangan, dan perjuangan yang berlangsung selama berabad-abad. Berawal dari pelabuhan penting pada masa Majapahit, berkembang menjadi pusat perdagangan kolonial, hingga menjadi saksi heroisme Pertempuran 10 November 1945, Surabaya telah memainkan peran besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga merupakan kota kelahiran Presiden pertama Indonesia dan salah satu pusat ekonomi terpenting di tanah air. Jejak sejarah tersebut masih dapat dirasakan hingga kini melalui berbagai bangunan, monumen, dan semangat masyarakatnya yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Kalau kamu tertarik untuk berlibur ke Surabaya dan eksplor berbagai tempat wisata sejarahnya, jangan lupa lengkapi perjalananmu dengan Asuransi Perjalanan dari MSIG Indonesia, ya. Dengan memiliki asuransi ini perjalananmu akan senantiasa aman karena dilindungi asuransi.