Seperti Ini Ritual Perayaan Waisak di Candi Borobudur

Kamu yang senang melakukan travelling pasti kenal dengan Candi Borobudur, kan? Candi yang berlokasi di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah ini merupakan candi atau kuil Buddha terbesar di dunia. Tidak heran, jika candi ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit baik oleh wisatawan domestik maupun internasional.

Meskipun candi ini dijadikan lokasi wisata, bukan berarti tidak lagi berfungsi sebagai tempat beribadah umat Buddha. Sebab, candi ini masih aktif digunakan sebagai tempat ziarah dan untuk memperingati Hari Raya Waisak. Bahkan, pada hari raya ini hampir seluruh umat Buddha dari berbagai wilayah di Indonesia akan berkumpul di candi ini untuk melakukan ritual keagamaan.

Sebelum memulai ritual puncak pada tanggal jatuhnya Hari Raya Waisak, ada beberapa ritual yang dilakukan terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya. Berikut ini, adalah ritual yang dilakukan setiap tahunnya untuk memperingati Hari Raya Waisak di Candi Borobudur:

  • Mengambil air suci dari mata air di Jumprit, Kabupaten Temanggung. Air ini kemudian disimpan di dalam Candi Mendut yang tidak jauh dari Candi Borobudur.
  • Menyalakan obor Waisak. Api yang digunakan untuk menyalakan obor ini diambil dari api abadi di Mrapen, Desa Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Api ini juga kemudian disimpan di Candi Mendut terlebih dahulu.
  • Ritual Pindapatta, merupakan sebuah ritual di mana biarawan Buddha menerima persembahan makanan dari jemaat Buddha. Pada ritual ini, biarawan Buddha akan berjalan menunduk sambil membawa mangkuk, yang nantinya akan diisi oleh jemaat dengan makanan secara sukarela. Filosofi dari ritual ini adalah latihan memberi dan menerima.
  • Para Biksu dan jemaat akan memulai upacara dengan berdoa di Candi Mendut dan kemudian berjalan kaki ke Candi Borobudur sambil membawa api abadi, air suci, dan simbol Buddha yang telah dijaga ketat di Candi Mendut. Semuanya kemudian akan diletakkan di altar utama yang telah disiapkan pada sisi barat Candi Borobudur.
  • Biksu maupun jemaat akan bermeditasi dan spiritual. Ini dilakukan menjelang Waisak yang ditandai dengan pemukulan gong sebanyak 3 kali.
  • Ritual Pradaksina, yaitu ritual sembahyang dengan berputar tiga kali mengelilingi Candi Borobudur, dengan bergerak searah jarum jam. Pada ritual tersebut akan dinyalakan lilin dan dinyanyikan Puja Ghat Visaka oleh jemaat.
  • Pelepasan lampion ke langit. Sebelum melakukan pelepasan ini, jemaat akan berdoa kepada Tuhan dan kemudian lampion akan dilepaskan dengan dipimpin oleh Biksu.

Pelepasan lampion adalah momen yang sangat sakral dan juga indah dalam perayaan Hari Raya Waisak. Momen inilah yang menjadi daya tarik para wisatawan untuk menyaksikan langsung. Sayangnya, pada saat perayaan Hari Raya Waisak, tiket Candi Borobudur tidak dibuka untuk umum. Kamu harus menggunakan paket khusus yang ditawarkan oleh jasa tur untuk bisa menjadi bagian dalam peringatan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur. Jangan lupa, jika kamu memang berencana ke sana, lindungi perjalananmu dengan Asuransi Perjalanan Domestik. Dengan perlindungan asuransi, Kamu tidak perlu takut lagi mengalami kerugian finansial akibat risiko yang terjadi saat dalam perjalanan.